Friday, May 18, 2012

Belajar Menyelesaikan Masalah Dari "aisyah"

Ummul Mukninin 'Aisyah tumbuh besar di rumah Rasulullah nan suci. Hal ini sungguh merupakan anugerah yang sangat besar, karena setiap orang yang dididik langsung oleh Rasulullah pada dasarnya akan menjadi guru dan sekolah yang fenomenal.


Inilah yang benar-benar terjadi pada diri ibunda kita, 'Aisyah. Nalar dan pemikirannya dipenuhi dengan konsepsi-konsepsi Islam. Tingkah laku dan sikap 'Aisyah merupakan bentuk praktis dan implementasi dari konsep-konsep Islam. Maka tidak masuk akal jika 'Aisyah melakukan suatu perbuatan yang menyalahi pemikiran, konsepsi dan tingkah laku yang sudah mendarah daging pada diri dan akalnya.

Sikap seperti ini bukan hanya ada pada diri 'Aisyah saja, melainkan adalah corak tingkah laku yang ada pada diri sahabat Rasul secara umum. Di situ ditemukan adanya keharmonisan luar biasa antara pikiran dan tingkah laku, yang jarang sekali bertolak belakang dengan Al Quran.

'Aisyah yang suci -putri dari sahabat Nabi yang jujur- ditimpa musibah paling besar yang mungkin menimpa perempuan bermartabat sepertinya. Ia dituduh berbuat zina. Alangkah berat ujian yang ia terima. Tuduhan itu tidak hanya beredar di kalangan terbatas keluarga dan sahabat dekat, tetapi beredar ke masyarakat dan dibumbui dengan sejumlah propaganda yang licik.

Istri seorang Rasul yang sangat disegani sekaligus dicinta oleh ummat dituduh telah melakukan zina. Zina yang dipandang sebagai aib dan dosa besar bagi setiap perempuan, terlebih jika dilakukan oleh istri Nabi, maka hal tersebut sungguh menjadi suatu masalah dan ujian yang berat bagi 'Aisyah. Hanya orang dengan kepribadian matang, tangguh dan cerdas seperti 'Aisyah yang dapat menanggung ujian tersebut dan mampu menemukan solusi sehingga dapat melewati cobaan dengan baik.

Apa yang dilakukan 'Aisyah menghadapi persoalan rumit ini? Bagaimana dia menghadapi, melawan, dan mengalahkannya?

Tentu wanita muslimah di jaman sekarang pun dapat mengambil hikmah, meneladani sikap dan tindakan 'Aisyah ketika menghadapi masalah dan ujian yang dihadapinya.

Masalah dan Cara Menghadapinya

Sebelum membahas lebih lanjut tentang sikap dan cara-cara 'Aisyah dalam menyelesaikan masalah, ada baiknya mengulas sedikit mengenai definisi masalah.

Manusia hidup tentu akan bertemu dengan masalah. Hal tersebut seperti bagian dari skenario yang ditentukan ‎اَللّهُ baik untuk pembelajaran maupun untuk menunjukkan tanda-tanda kebesaran dan kekuasaan-Nya.

Masalah dapat didefinisikan sebagai perasaan atau kesadaran tentang adanya suatu kesulitan yang harus dilewati untuk mencapai tujuan. Masalah juga dapat diartikan sebagai kondisi disaat kita berbenturan dengan realitas yang tidak diinginkan.

Tanpa sadar kadang masalah yang datang dapat menyita pikiran kita. Disinilah diperlukan sikap dan pengetahuan agar dapat menghadapi masalah dan menemukan solusi yang tepat dan tentunya tidak semakin menjerumuskan kepada masalah lain. Dan yang lebih utama, bagaimana bersikap dan bertindak menghadapi masalah sesuai dengan petunjuk yang diberikan Allah.

Terkadang untuk menyelesaikan masalah butuh waktu, namun terkadang masalah dapat selesai dengan cepat. Bagaimanakah ibunda ‘Aisyah menghadapi persoalannya kala itu?

Persoalan yang dihadapi ‘Aisyah adalah berita bohong. Para kaum munafik menyebarluaskan isu tentang kasus perzinaan ‘Aisyah dengan Shafwan bin Mu’aththal. Ketika pulang dari sebuah peperangan, ‘Aisyah terlambat dari rombongan. Ia pulang diantar Shafwan dan menaiki untanya. Setelah itu isu tentang perzinaan ini pun menyebar luas, laksana api yang dengan cepat membakar rerumputan kering.

Persoalan ‘Aisyah kala itu ada dua hal, pertama, ‘Aisyah mendapati dirinya sendirian karena sudah ditinggal rombongan pasukan. Kedua, ketika isu ini beredar di luar, ia tidak mengetahui bahkan tidak terlintas di dalam pikirannya sama sekali. Lantas apakah yang dilakukan ‘Aisyah untuk menghadapi dua persoalan tersebut?

Sadar Bahwa Tengah Menghadapi Masalah

Harus diketahui bahwa sebuah persoalan tidak akan berarti jika orang yang tertimpa atau memiliki hubungan dengan persoalan tersebut tidak menyadarinya. Begitu pun dengan ‘Aisyah, ia sadar betul akan adanya masalah yang sedang dihadapi. Ketika kembali dari mencari kalung yang hilang dan mendapati rombongan pasukan sudah pergi meninggalkannya, ‘Aisyah sadar kalau ia sedang dalam masalah. Ini persoalan pertama.
Sedangkan terhadap persoalan kedua, dimana ia dituduh melakukan zina, ‘Aisyah segera merasa kalau sedang ada masalah ketika diberitahu Ummu Misthah tentang isu yang sedang beredar di masyarakat. Pada awalnya ‘Aisyah tidak merasakan hal itu. Maka ia heran atas celaan Ummu Misthah terhadap anaknya, dan ia pun membelanya karena Misthah termasuk salah satu sahabat yang ikut dalam perang badar.

Menjaga Emosi dan Tetap Tegar

Ibunda kita ‘Aisyah mampu menahan emosinya di saat menghadapi persoalan yang menimpanya. Padahal situasi yang ia alami kala itu sangat mencekam. Tertinggal sendirian oleh rombongan pasukan di medan perang. Dan ia pun tetap dapat mengontrol dirinya ketika mendengar isu yang sesungguhnya dapat membuatnya tertekan. Tentu saja ‘Aisyah kaget dan limbung atas isu-isu yang tersebar luas menyangkut dirinya. Namun meskipun begitu, ‘Aisyah tetap sabar karena mengingat firman Allah,

“Maka hanya bersabar itulah yang terbaik (buatku). Dan kepada Allah saja memohon pertolongan-Nya terhadap apa yang kamu ceritakan. (Yusuf [12]:18)

Ketegaran hati yang dimiliki ‘Aisyah tercermin dengan selalu memohon perlindungan Allah melalui doa, shalat, zikir, berbaik sangka kepada Allah dan umat muslim yang terkait dengan isu tentang dirinya, serta mengharap datangnya kebaikan. Sisi keimanan secara umum juga sangat berpengaruh dalam hal ini, sehingga keimanan harus tetap dijaga pada setiap fase penyelesaian masalah.

Semua inilah yang dilakukan oleh ‘Aisyah. Meskipun isu-isu itu mampu membuat ‘Aisyah terpukul, tapi ia tetap tidak kehilangan akal sehat.
Terhadap persoalan pertama, ‘Aisyah menyimpulkan kalau rombongan pasukan memang sudah meninggalkannya, dan ia tertinggal sendirian. Hal ini membuat ‘Aisyah mengkhawatirkan diri sendiri kalau sampai meninggal dunia, mendapat musibah, atau mengalami tindak kekerasan. Sedangkan terhadap persoalan kedua, ‘Aisyah sudah menyimpulkan dan mengetahuinya. Isu yang beredar saat itu adalah ia dituduh berbuat zina. ‘Aisyah sudah memikirkan tuduhan tersebut dan konsekuensi yang mungkin timbul karenanya.

Memikirkan Solusi

‘Aisyah memikirkan solusi yang mungkin berguna untuk menyelesaikan persoalannya. Yang terbersit dalam benak ‘Aisyah waktu itu adalah sejumlah hal berikut:
1. Menyusul rombongan pasukan. Tapi ia tidak memiliki kendaraan, sedang malam sudah gelap dan ia pun rasanya tidak mungkin berjalan sendirian
2. Tetap berada di tempat semula sambil bersembunyi
3. Pergi ke tempat lain
4. Menunggu di tempat semula dengan harapan rombongan pasukan atau sebagian mereka akan kembali lagi ke tempat itu. Sebab apabila rombongan tahu kalau ia tidak ada, tentu mereka akan segera kembali ke tempat semula untuk mencari.
5. Mencari seseorang yang mungkin tertinggal dari rombongan seperti yang ia alami, atau menunggu seseorang yang mengikuti rombongan pasukan dari jauh.
Sedangkan terhadap persoalan kedua, yang terbersit pada benak ‘Aisyah adalah;
1. Membela diri
2. Menyerahkan hal itu kepada Rasul, sementara ia tetap berada di rumahnya. Namun sepertinya ‘Aisyah melihat kalau Rasulullah terpengaruh dengan isu tersebut, di samping isunya sudah menyebar luas di masyarakat
3. Pulang ke rumah bapak ibunya, bersabar dan menyerahkan semuanya kepada Allah
4. Menerapkan solusi paling tepat di antara solusi-solusi yang ada
Solusi
‘Aisyah memilih untuk tetap berada di tempat semula dengan harapan rombongan pasukan atau sebagian dari mereka kembali lagi untuk menjemput. Benar saja, Shafwan datang. Waktu itu, ‘Aisyah menyangka kalau Shafwan memang diutus rombongan untuk menjemputnya. Oleh karena itu, ‘Aisyah langsung menaiki unta Shafwan tanpa berbicara sedikit pun. Dan karena anggapan seperti ini juga, ‘Aisyah tidak pernah terbetik dalam pikirannya bakal ada isu-isu miring tentang dirinya. Sebab ia menyangka bahwa Shafwan memang diutus rombongan untuk mencari dan membawanya menyusul rombongan.

Sedangkan mengenai masalah tuduhan zina, ‘Aisyah meminta izin kepada Rasulullah untuk pulang ke rumah keluarganya. Sebab persoalan ini butuh kejelasan lebih lanjut selagi belum turun wahyu yang menjelaskannya. Selain itu, menghadapi persoalan semacam ini juga butuh kepala dingin agar bisa berpikir tenang. Kepulangan ‘Aisyah ke rumah orangtuanya mengandung banyak himah dan kecerdikan. Oleh karena itu, Rasul pun segera memenuhi keinginan ‘Aisyah tersebut.

Selanjutnya tampak nyata bahwa ide dan keputusan-keputusan ‘Aisyah memang sangat tepat. Ia bisa keluar dari persoalan ini dengan begitu terhormat. Ketidakbersalahan ‘Aisyah bahkan dinyatakan lewat wahyu yang turun dari atas langit ke tujuh, yang akan selalu dibaca dan diabadikan. Hal ini menghasilkan sejumlah hukum dan solusi, yang berarti juga mendatangkan banyak kebaikan pada umat secara umum.

“Sesungguhnya orang-orang yang menuduh wanita yang baik-baik, yang lengah lagi beriman (berbuat zina), mereka kena la'nat di dunia dan akhirat, dan bagi mereka azab yang besar,” (QS. An-Nur:23)

Ibnu Abu Hatim mengetengahkan sebuah hadis melalui jalur Said ibnu Jubair yang ia terima dari Ibnu Abbas r.a. yang menceritakan, bahwa ayat ini khusus diturunkan berkenaan dengan Siti Aisyah. Ibnu Jarir mengetengahkan sebuah hadis melalui Siti Aisyah yang menceritakan, "Aku dituduh (berbuat zina) sedangkan aku dalam keadaan lalai. Kemudian berita mengenai hal ini sampai kepadaku. Ketika Rasulullah saw. sedang berada di rumahku, tiba-tiba turunlah wahyu kepadanya. Setelah itu beliau mengusap mukanya dan duduk dengan tegak, seraya bersabda, 'Hai Aisyah bergembiralah'. Aku menjawab, 'Dengan memuji kepada Allah, bukan memujimu'. Rasulullah saw. pun membacakan firman-Nya, 'Sesungguhnya orang-orang yang menuduh wanita-wanita yang baik-baik, yang lengah lagi beriman (berbuat zina)...' sampai dengan firman-Nya, 'Mereka yang dituduh itu bersih dari apa yang dituduhkan oleh mereka (yang menuduh itu)'..." (Q.s, 24 An Nur, 26). Imam Thabrani mengetengahkan sebuah hadis dengan sanad yang para perawinya orang-orang yang dapat dipercaya, melalui Abdurrahman ibnu Zaid ibnu Aslam, yaitu sehubungan dengan firman-Nya, "Wanita-wanita yang keji adalah untuk iaki-iaki yang keji..." (Q.S. An Nur, 26). Abdurrahman ibnu Zaid menceritakan bahwa ayat ini diturunkan berkenaan dengan Siti Aisyah, yaitu sewaktu ia dituduh berbuat zina oleh orang munafik, kemudian Allah swt. membersihkannya dari tuduhan itu. Imam Thabrani mengetengahkan sebuah hadis melalui dua buah sanad yang kedua-duanya berpredikat Daif, bersumber dari Ibnu Abbas r.a. yang menceritakan, bahwa firman-Nya, "Wanita-wanita yang keji adalah untuk laki-laki yaug keji..." (Q.S. An Nur,26). diturunkan berkenaan dengan orang-orang yang mengatakan tuduhan/berita bohong kepada istri Nabi saw. Imam Thabrani mengetengahkan sebuah hadis melalui Hakam ibnu Utaibah yang menceritakan, bahwa ketika orang-orang mempergunjingkan perihal Siti Aisyah r.a. Rasulullan saw. menyuruh seseorang mendatangi Siti Aisyah r.a. Utusan itu mengatakan, "Hai Aisyah! Apakah yang sedang dibicarakan oleh orang-orang itu?" Siti Aisyah r.a. menjawab, "Aku tidak akan mengemukakan suatu alasan pun hingga turun alasanku dari langit". Maka Allah menurunkan firman-Nya sebanyak lima belas ayat di dalam surah An Nur mengenai diri Siti Aisyah r.a. Selanjutnya Hakam ibnu Utaiban membacakannya hingga sampai dengan firman-Nya, "Wanita-wanita yang keji adalah untuk laki-laki yang keji..." (Q.S. An Nur,26). Hadis ini berpredikat Mursal dan sanadnya sahih.

Setelah kejadian ini, setiap orang dapat mengambil solusi yang tepat ketika menghadapi persoalan yang sama. Ini merupakan teladan yang patut diikuti oleh setiap muslimah dalam menghadapi masalah. Bersabar, hati-hati, menghadapi setiap situasi dengan kepala dingin dan keinginan kuat, berserah diri kepada Allah melalui shalat, zikir, dan doa. Insha Allah masalah apapun dan seberat apapun masalah akan tampak jelas dan akan dapat ditemukan solusinya. Ingatlah janji Allah bahwa sesudah kesulitan akan datang kemudahan.

Meski banyak literatur yang mengatakan bahwa perempuan adalah mahluk yang emosional dan berpikir secara emosional, namun Ummul Mukminim mengajarkan bahwa seorang perempuan harus tegar dan harus dapat menahan diri. Bersikap emosi, terlebih menggunakan kekerasan bukan saja tidak menyelesaikan masalah, bahkan kadang akan menimbulkan masalah baru sehingga lebih rumit. Ini berlaku untuk berbagai masalah, tidak hanya yang berkaitan dengan masyarakat seperti yang dialami ibunda ‘Aisyah, tetapi juga berlaku ketika menghadapi masalah dengan anak-anak, suami, saudara atau mungkin orang tua.[wn]

eramuslim.com

0 comments:

Post a Comment

Fans Fage

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More