Friday, February 22, 2013

Makna Sabar


Bismillah Walhamdulillah Was Salaatu Was Salaam 'ala Rasulillah
Bismillaahirrahmaanirrahiim

Assalamu'alaikum wr.wb.

Ibnu Mas'ud R.A. berkata: Seolah-olah saya masih melihat pada Rasulullah SAW ketika mencontohkan kejadian seorang Nabi yang dianiya kaumnya hingga berlumuran darah, sambil mengusap darah dari mukanya berkata ALLAHUMAGHFIR LIQOUMI FA INNAHUM LA YA'LAMUN (ya Allah ampunilah kaumku karena mereka tidak mengetahui). (H.R Bukhari, Muslim)

Sabar adalah sepenggal kata yang sering diucap dan enteng untuk dituturkan, namun dengan konsekuensi yang luar biasa berat. Sabar lebih sebagai sebuah hasil tempaan panjang takwinniyah ketimbang sebuah bekal untuk belajar. Dia wujud karena kematangan fikrah dan kelembutan khusyu'. Dia adalah sebuah karakter yang diidamkan, kokoh, ibarat karang di tengah gelombang pasang. Ibarat black hole yang menyerap semua sinar tanpa membuatnya kehilangan pegangan. Maka Allah bersama orang-orang yang sabar. Maka Nabi-nabi Allah selalu dengan kesabaran. Tanpa akhlaq islami ini da'wah islamiah tak akan tegak.

Tanpa sabar al Haq tak dapat ditegakkan. Karena, jalan bersama al haq, jalan yang lurus, jalan orang-orang yang diberi ni'mat, jalan para Nabi, Shiiddiqiin, syuhada dan shalihiin, jalan ketaqwaan adalah jalan yang sukar lagi mendaki, jalan yang penuh celaan dari orang-orang yang suka mencela, jalan penuh hasutan dari orang-orang yang suka menghasut, jalan yang penuh hinaan dari orang-orang yang suka menghina, jalan penuh fitnah, teror, interogasi dan intimidasi. Tanpa sabar jalan yang mendaki menjadi lebih mendaki dan tak dapat dilalui.

Rasulullah saat di Tha'if berlumuran darah dilempari batu, begitu juga Nabi-nabi lain, karena kaumnya belum faham, tidak tahu kebenaran Allah, mereka jahil. Kalau saja mereka tahu, mereka faham, maka mereka akan lebih banyak menangis karena kesalahan-kesalahan mereka. Apa yang harus dilakukan untuk mereka yang tidak tahu, selain memohonkan pengampunan pada Sang Khalik ?

Memasukkan kebenaran ke dalam kepala, hati lalu mewujud dalam amaliah seseorang mad'u, bukanlah pekerjaan sederhana. Ini adalah pekerjaan para anbiya, makhluk pilihan Allah. Coba kita bermuhasabah, baru saja perkataan kita disinggung saudara kita, ditanggapi dengan sedikit sinis atau dibiarkan, segenap ketersinggungan meluncur, meluap, lalu kita serang mereka yang bersinis-sinis kepada kita dengan kata-kata tajam-menusuk jantung. Baru saja nasehat-nasehat kita dibalas dengan canda, dibalas dengan tawa, dibalas dengan olok-olok, segera saja segenap kebencian melanda. Belum lagi menghadapi fikrah rekan-rekan yang lain, yang tidak sama dengan kita, yang nampak kacau yang merugikkan, yang nampak munafiq, segenap kebencian penuhmenghiasi layar kaca. Setumpuk buruk sangka menghiasi muka. Lalu dimana letak sabar ? Akankah kebenaran merasuk dalam hati rekan-rekan yang kepada mereka ingin kita sampaikan kebenaran, dengan tetap memelihara ketidaksabaran? Apakah kita menganggap orang lain segera akan menerima kata-kata kita, meresapinya, lalu mengamalkannya, dengan sangat mudahnya ? Apakah kita berharap masuk surga, padahal belum datang cobaan kepada kita sebagaimana cobaan datang kepada mereka yang terdahulu ? Astaghfirullah, kita sering bermimpi. Kita sering bermimpi.

Inilah sabar. Dia muncul dari proses panjang pembinaan pribadi. Dia mesti mewujud, memancarkan sinar, melembutkan hati-hati yang memandangnya.


Pengertian SABAR 

"Sabar" ditinjau dari segi lughoh (bahasa) berarti menahan dan mengekang, seperti terdapat dalam firman Allah:
"Dan bersabarlah bersama dengan orang-orang yang menyeru Rabb-nya di kala pagi dan siang hari dengan mengharap ridhaNya. Dan janganlah kamu berpaling dari mereka karena mengharap perhiasan kehidupan dunia; dan janganlah kamu mengikuti orang yang hatinya telah Kami lalaikan dari mengingat Kami, serta menuruti hawa nafsunya dan melewati batas." (Al-Kahfi:28)

Sabar juga berarti menahan diri atas segala sesuatu yang tidak disukai karena mengharap ridha Allah. Firman Allah:
"Dan orang-orang yang sabar karena mengharap ridha Allah, mendirikan shalat, menafkahkan sebagain rizqi yang Kami berikan kepada mereka, secara sembunyi-sembunyi atau terang-terangan; menolak kejahatan dengan kebaikan; orang-orang itulah yang mendapat tempat yang baik." (ArRa'd:22)

Sesuatu yang tidak disukai tentulah beraneka ragam, oleh karena itu aspek kesabaran sangat luas dan meliputi medan yang lebih luas daripada yang selama ini difahami orang mengenai kata dan konsep "sabar". Sabar yang akan dibahas di sini adalah sabar yang berhubungan dengan seorang da'i dalam mengemban tugas da'wah yang mulia.

Da'i adalah penerus risalah Allah yang telah diturunkan pada rasul-rasulNYA. oleh karena itu, sudah barang tentu para da'I pun akan mengalami apa-apa yang dialami oleh para utusan Allah, yaitu berupa tantangan dari para penentang dan pembangkang da'wah yang telah dikuasai oleh hawa nafsu. Apalagi da'wah yang mengacu benar-benar pada da'wah Rasulullah SAW, adalah da'wah yang universal dan menyeluruh. Da'wah yang demikian ini sudah tentu akan menimbulkan permusuhan yang sangat keras dan kasar dari para penentang da'wah. Oleh sebab itu seorang da'i ilallah mutlak memiliki kesabaran.


Sabar dalam menghadapi beban da'wah ilallah, wujudnya bisa beraneka ragam, di antaranya disebutkan dalam Al-Qur'an, yaitu:

1. Sabar dari berpalingnya manusia dari da'wah.
Sebuah contoh bagaimana bentuk keberpalingan dari da'wah ini, dapat dilihat dari munajat Nabi Nuh AS kepada Allah ketika mengadukan ihwal kaumnya yang menolak da'wahnya:
"Ya Robbi, sesungguhnya aku telah menyeru kaumku, malam dan siang; tetapi seruanku hanyalah menambah mereka lari dari kebenaran. Dan sesungguhnya setiap kali aku menyeru mereka kepada iman, agar Engkau mengampuni mereka, mereka memasukkan jari-jari mereka ke dalam telinganya dan menutupkan bajunya ke mukanya, dan mereka tetap mengingkari dan sangat menyombongkan diri (Nuh:5-7).

Dalam menghadapi manusia yang berpaling dari da'wah ini, Allah memberikan formulanya dalam surat 16:127
"Bersabarlah, dan tiadalah kesabaranmu adalah dengan pertolongan Allah dan janganlah kamu bersedih hati terhadap kekafiran mereka"

2. Sabar terhadap gangguan manusia, baik perbuatan atau ucapan.
Tidak ada yang lebih menyedihkan bagi seorang da'I yang mukhlis yang mencintai kebaikan bagi manusia, daripada sikap manusia yang menyambut nasihatnya dengan tuduhan-tuduhan palsu, yang membalas kebaikannya dengan kejahatan, yang menuduh aktifitas konstruktifnya dengan tuduhan "mengganggu stabilitas nasional". Memang hal-hal semacam ini sudah diingatkan Allah dalam Al-Qur'an (lihat surat 3:187). Allah menjelaskan hal ini kepada mu'minin agar mempersiapkan diri dengan senjata sabar. Dari sini kemudian Allah memerintahkan rasul-rasulNYA (termasuk para da'i) agar bersabar atas gangguan manusia-manusia pengganggu tersebut:
"Dan bersabarlah terhadap apa yang mereka ucapkan dan jauhilah mereka dengan cara yang baik" (Muzzamil:10)

3. Sabar terhadap panjangnya perjalanan da'wah.
Allah telah menjanjikan dan menetapkan kemenangan bagipara penyeru kebenaran dari antara para rasulNYA, pengikutnya dan para pewarisnya yang istiqomah. Namun, kemenangan ini tidak akan terwujud secara singkat atau mudah, sebab matahari pun tidak akan terbit tanpa didahului dengan malam panjang yang penuh dengan kegelapan dan kesulitan. Cobaan-cobaan dan tribulasi siap menimpa, yang membuat hati yang merasakannya akan menjadi miris, sehingga berprasangka kepada Allah dengan berbagai prasangka dan duga. Dalam beberapa ayat, Al-Qu'an dengan gaya bahasa yang
berlainan, mengungkapkan:
"Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum datang kepadamu cobaan sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu?" (Al-Baqarah:214)

Hal ini merupakan suatu isyarat tentang betapa lama pertolongan Allah itu dan mereka mengharap agar disegerakan, sehingga mereka akan terbebas dari penderitaan yang dialami dan memberikan jalan keluar bagi segenap cobaan yang menimpa. Allah berfirman:
"Sehingga apabila para Rasul sudah tidak mempunyai harapan lagi tentang keimanan mereka, dan telah meyakini bahwa mereka telah didustakan, datanglah pertolongan kami pada para Rasul itu, lalu diselamatkanlah orang-orang yang kami kehendaki, dan tidak dapat ditolak siksa kami dari orang-orang yang berdosa" (Yusuf:110).

Ikhwan/akhwat fillah, semoga kita semua termasuk dan senantiasa bersama orang-orang yang bersabar.

Wallahu'alam bissawab.
Wassalamu'alaikum

0 comments:

Post a Comment

Fans Fage

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More