Monday, June 27, 2011

MUHAMMAD ROSULULLOH


Ketika bulan rabi’ul awal menjelang, peringatan-peringatan Maulid Nabi SAW pun makin temaram. Serentetan acara, dan mulai yang cukup berarti sampai yang sekedar hura-hura usailah sudah. Entah sudah yang keberapa kali “pesta” itu di langsungkan. Dan entang berapa besar dana yang di hamburkan. Hasilnya? Umat tidak pernah bertambah baik. Dalam arti berusaha menyelami. Mengikuti, mencontoh apalagi memperjuangkan risalah tokoh yang katanya amat mereka cintai itu.
Memilukan memang, bila kecintaan terhadap ‘Manusia Teladan dan Terbaik sepanjangmasa’ itu di wujudkan hanya dengan amalan-amalan amat ringan. Sekedar memperingati hari lahirnya, membuat syair-syair pujian yang kadang-kadang amat berlebihan atau cerita tentang kehidupannya secara dangkal. Bahkan yang paling menyedihkan kehidupan Nabi saw tidak lebih hanya sebuah dongeng atau legenda yang luar biasa mengasyikkan. Sungguh, tidak adil dan abhkan kita telah berlaku zalim bila figure uswah (tokoh panutan) manusia sepanjang masa itu di perlakukan dengan cara demikian. Muhammad saw, bukanlah tokoh keramat yang cukup hanya di agung-agungkan lewat bibir, atau ‘dikeramati’ dengan perlakukan yang cenderung ke arah syirik. Atau juga, dia bukanlah tokoh sejarah yang Cuma jadi ibjek studi. Bagi seorang muslim, setiap babak kehidupan Nabi Muhammad bukan merupakan ‘keranjang kosong’, namun sebagai sumber suri teladan mulia yang wajib diikuti.
Tidak di ragukan lagi, Rasulullah saw adalah manusia yang tak ada tolok bandingnya. Babakan kehidupan beliau. Pra dan pasca pengangkatannya sebagai rasul, nyaris sebuah contoh kesempurnaan tentang kehidupan seorang manusia. Melalui pengujian yang ketat, penelitian yang cermat, tentang kehidupan beliau, akhirnya seluruh manusia harus mengakui kebesaran dan keperkasaan pribadi agung tersebut.

USWAH HASANAH
Awan kegelapan menyelubungi jazirah Arab, bahkan seluruh dunia. Mula pertama Muhammad saw mendakwahkan risalahnya. Si kuat berkuasa, yang setiap saat bisa berlaku apa saha terhadap si lemah. Kaum lemah harus siap dan pasrah untuk ditindas dan di injak-injak. Kepemimpinan dibangun atas dasar kekuatan dan kekuasaan, bukan atas dasar haq dan kebenaran. Syirik merajalela, mulai dari Persia, India, negeri Cina, Arab dan dunia jahiliyah lainnya. Realitas pahit dan memilukan inilah yang harus dihadapi Nabi kita.
Sungguh luar biasa tugas berat yang harus di emaban Nabi akhir zaman ini. Setetes kebenaran yang harus menghadapi samudera kebathilan! Surutkah langkah beliau? Tidak! Dengan niat lurus serta keyakinan akan kebenaran risalah yang di bawanya, mulailah Nabi mengumandangkan seruan suci itu: “sembahlah Allah yang menciptakanmu, jangan sekutukan Dia dengan apapun”. Terangkum dalam sebuah kalimat suci dan mendasar Laa Ilaaha Illallah Muhammadur Rasulullah. Memerintah manusia untuk melepaskan diri terhadap penyembahan terhadap sesama manusia, batu-batuan, pohon-pohon, berhala-berhala dan semacamnya. Tentu saja seruan ini menggoncangkan eksistensi manusia-manusia yang mengangkat dirinya sebagai ‘tuhan-tuhan kecil’, manusia congkak dan sombong serta serakah yang ingin jadi penguasa seumur hidup. Padahal ajaran mendasar yang dibawa Muhammad saw adalah pembebasan kembali manusia-manusia yang telah terjerat rantai perbudakan penyembahan kepada selain Allah. Hak untuk abadi, ditakuti, di taati mutlak milik Allah. Manusia adalah hamba (pengabdi), bukan Tuhan (penguasa) yang bisa sewenang-wenang menetapkan undang-undang atas sesama manusia.
“Wahai sekalian manusia mengabdilah hanya kepada Tuhan yang telah mencitakanmu dan orang-orang sebelum kamu…”(Qs 2:21)

KETELADANAN YANG HILANG


Gegap gempita dan hingar bingar peringatan Maulid Nabi besar SAW mulai senyap. Konon tujuannya adalah menyadarkan ummat agar kembali berushwah hasanah atau mengambil contoh teladan pada diri Rasulullah saw. Tujuan ini bisa dipahami dari seruan mereka untuk menjadikan Muhammad Rasulullah saw sebagai satu-satunya contoh teladan dengan menyitir firman Allah SWT di surat Al-Azhab: 21 yang berbunyi : “sesungguhnya pada diri Rasulullah ada contoh teladan bagi kamu…”
Tujuan Shalahuddin Al-Ayyubi mempelopori Peringatan Maulid Nabi Besar SAW sembilan abad lalu adalah mengembalikan semangat jihad fie sabilillah kaum muslimin yang telah menurun dalam kecamuk perang Sabil (salib). Dengan kata lain, peringatan Maulid Nabi pada saat itu bertujuan untuk membangkitkan kembali ruhul jihad kaum muslimin yang mulai hilang di dalam menegakkan kalimatullah yang haq. Dalam hal ini Shalahuddin Al-Ayyubi telah menyadarkan umat saat itu untuk mengambil keteladanan Rasulullah saw sebagai seorang mujahid, pahlawan, pejuang yang ulet dan gigih di dalam menegakkan kalimatullah. Keteladanan inilah yang nampak hilang dari dalam diri ummat Islam saat ini.
Bertahun-tahun kelahiran Nabi Besar Muhammad saw di peringati, bertahun-tahun pula diri pribadi beliau sebagai seorang Rasulullah saw yang berjiwa mujahid dan melahirkan kader-kader tauhid tidak pernah diteladani. Apakah suri teladan pada diri Rasulullah saw itu hanya dalam hal ibadah khusus akhlaq dalam artian sempit atau hanya dalam berdo’a?
Sesungguhnya setiap muslim harus bersungguh-sungguh dan total dalam meneladani Rasulullah saw. Ia tidak boleh meneladani beberapa aspek dan mengikari aspek yang lainnya. Dengan pengertian seperti ini maka ummat tidak akan kehilangan keteladanan yang sesungguhnya. Keteladanan Rasulullah saw yang dapat mengangkat derajat ummat dalam hal iman, taqwa dana khlaq. Dana kan melahirkan pribadi muslim teladan baik segi ‘aqidah, ‘ibadah, akhlaq, fikroh (pola piker) ataupun jasmaninya. Mereka juga harus lebih mengenal petunjuk dan sunnah Rasulullah saw dalam segala aspek kehidupannya, seperti hal-hal yang berhubungan dengan Rabbnya baik berupa sholat, tahajjud, dzikir, khauf dan taqarrub kepada-Nya.
Seorang muslim atau ummat Islam juga harus mencontoh Rasulullah saw dalam sifat dan sikapnya seperti kasih saying, lemah lembut, pemaaf, menahan marah, tidak membenci diri sendiri, bermusyawarah dengan sesama muslim, bertawakkal kepada Allah, berjihad, berani. Jiwa kependekaran di medan tempur dan semacamnya. Juga dalam keuletan berda’wah, kehidupan suami istri, hubungan baik dengan keluarga, berpegang teguh kepada Islam dan tidak meremehkan walaupun dalam hal-hal kecil, anjuran terhadap ukhuwwah dan kasih saying sesama muslim, melarang menggunjing dan lain-lain sebagainya.
Meneladani Rasulullah saw secara totalitas merupakan hal yang sangat mendesak pada saat ini. Terutama keteladanan Rasul Allah saw sebagai seorang da’I, mubaligh dan khotib yang tak gentar menyerukan amar ma’ruf nahi munkar, walaupun singa-singa dan harimau-harimau mengaum di jalanan sebagai lawan yang membelintang. Dan yang tidak bosan-bosannya menggembeleng ummat melalui tarbiyyah islamiyyah supaya berjihad menentang kebathilan serta memanggil dan mengajak manusia ke jalan Allah Robbul Jalal untuk menghayati kehidupan beribadah yang murni dan kaaffah (menyeluruh)
Hal ini sangat mendesak karena kaum muslimin saat ini tidak bisa menunjukkan dirinya sebagai ummat terbaik yang harus berfungsi sebagai kholifahtullah dil ardl, memiliki kekuatan amar ma’ruf nahi munkar dan menebarkan rahmat bagi semesta ‘alam. Kaum muslimin harus digembeleng dan di bangkitkan semangat tauhidnya agar berani menegakkan Dienul Haq, Al-Islam. Di dalam diri kaum musliminharus terbetuk pribadi-pribadi yang mencerminkan keteladanan Rasulullah saw sebagai seorang da’I dan mujtahid yang berani bersikap: “Tidak, demi Allah wahai pamanku! Seandainya mereka meletakkan matahari di tangan kananku dan bulan di tangan kiriku agar aku meninggalkan urusan da’wah ini, tidak akan aku lakukan. Sampai Allah memenangkan da’wah ini atau aku binasa karenanya”.
Ishmet Abdullah
“Apakah tuhan-tuhan yang bermacam-macam itu lebih baik dari Allah yang Maha Esa lagi Maha Perkasa” (12:39)
tiba-tiba saja sikap aneh ditunjukkan oleh manusia-manusia kerdil, ketika Muhammad mengumabndangkan kebenaran yang dibawanya. Pemuda yang sebelumnya dikenal berprilaku nyaris tanpa cela, tak pernah berdusta (Al Amin). Mendadak di tuduh sebagai gila, pendusta. Sama anehnya menganggap manusia yang selalu dusta, tiba-tiba jadi manusia jujur. Sebuah perlakukan yang tidak adil. Bagaimana sikap Nabi? Dengan ketegaran yang luar biasa menganggumkan, Nabi terus mendakwahkan risalah Ilahiah. Walau babakan kehidupan yang amat berat yang nyaris tak tertahankan harus dilalui, namun langkah beliau tak pernah surut.
Abu Thalib sang Paman tentu saja khawatir melihat kemenakan yang setiap saat terancam jiwanya. Hingga menyarankan untuk menghentikan dakwah tersebut. Apa jawab nabi? “ Demi Allah wahai Paman! Seandainya mereka mampu meletakkan matahari di tangan kananku dan bulan di tangan kiriku agar aku menghentikan dakwah (Islam). Niscaya aku tak akan menghentikan seruan suci ini hingga Allah memenangkannya. Atau aku harus mati karenanya”. Sebuah contoh keteguhan sikap dan cita-cita seorang pejuang penegak kebenaran yang tak ada duanya.
Figure seorang pemimpin dunia sejati yang besar di rimba jihad. Pemimpin yang selalu siap mempertaruhkan nyawanya demi kepentingan umat Ia berhasil membangun khilafah nubuwah dan menyatukan berjuta manusia dari geografis dan demografis yang berbeda. Namun demikian. Rasulullah saw hidup amat sederhana

Mencintai Rasul
Muhammad Rasulullah pribadi agung yang telah berhasil membangun kerangka dasar, kebenaran, keadilan dan perdamaian di atas dasar haq. Gerakan yang di bawakannya adalah sebuah revolusi terbesar dalam sejarah kemanusiaan. Ia telah berhasil mengubah altar, dewa-dewa sesembahan manusia, keyakinan dan cita-cita manusia untuk hanya mengabdi kepada yang Maha Tunggal (Tauhidullah). Manusia yang lebih dari separoh hidupnya harus menghadapi berbagai kesengsaraan dan penderitaan itu, telah meninggalkan sebuah warisan suci: Al Islam! Konsep hidup terbaik dan sempurna yang merupakan anti-teori dari seluruh faham-faham ardhiyah (bumi), yang sektoran dan menyesatkan.
Sebagai umat Muhammad, mencintai beliau adalah wajib. Namun bukan hanya menganggung-agungkan pribadinya, memuji-muji kebesaran perjuangan, atau sekedar berziarah sambil komat kamit dan menangis di sisi makamnya. Bukan, bukan demikian yang di tuntut oleh beliau. Kecintaaan itu harus di wujudkan dalam bentuk sikap dan amalan-amalan kongkrit sebagaimana telah di contohkannya. Pengabdian kepada Allah akan sempurna. Hanya apabila mengikuti perilaku Rasulullah di dalam berbagai sektor kehidupannya.
”Katakanlah (hai Muhammad), apabila engkau mencintai Allah, maka ikutilah aku. Niscaya Allah juga mencintaimu, dan mengampuni dosa-dosamu…”(3:31)
Jelas dan gambling keterangan ayat Qur’an tersebut. Mencintai Allah berarti berusaha memahami, menyelami dan mengikuti ajaran-ajaran Rasul secara utuh dan menyeluruh, kemudian istiqomah dalam memperjuangkannya. Ucapan, perangai, sikap serta sepak terjang Rasulullah saw adalah sumber hukum kedua setelah Al Qur’an. Kita baru dapat merasakan dan menikmati hakekat kebenaran Islam bila mengacu pada pola sikap dan perjuangan Rasul, Rasulullah adalah Qur’an hidup (The Living Qur’an).
“Sungguh bagi kamu, di dalam diri Rasulullah itu terdapat uswah hasanah…” (33:21)
Ingin berperan sebagai seorang ayah yang baik? Maka Rasulullah saw adalah contoh terbaik seorang suami dan ayah. Di tengah kesibukkannya berdakwah, beliau tak pernah melalaikan tugas-tugasnya sebagai kepala rumah tangga, dan selalu menunaikan hak-hak anak dan istri-istrinya dengan baik. Sebagai pedagang, beliau adalah pedagang yang luar biasa jujur. Sebagai politikus, panglima perang ataupun kepala negara, semua peran itu dibawakannya dengan sempurna dan mempesona.
Kalau ada yang ingin mencari figure seorang negarawan agung. Politikus ulung. Panglima perang terbesar, atau seorang ayah teladan, maka semua keunggulan-keunggulan itu telah tercukup dan terakit dalam sebuah sosok pribadi sempurna: Muhammad Rasulullah …!

0 comments:

Post a Comment

Fans Fage

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More