VALENTINE DAY (HARI BERKASIH SAYANG) Menurut pandangan Islam

Benarkah ia hanya kasih sayang belaka ? "14 februari hari yang sakral bagi sang ..". “Dan jika kamu menuruti kebanyakan orang-orang di muka bumi ini.

Ma’rifatul Rasul

Mengenal Rasul adalah suatu kewajiban bagi setiap muslim untuk mengamalkan Islam.

Makna Dakwah Fardiah

Risalah Dakwah Fardiah Risalah ini seolah-olah kecil pada pandangan manusia Namun ia memberikan makna yang sangat besar.

Nama Bulan hijriyah dan Nama Hari dalam Bahasa Arab

Kalender Islam menggunakan peredaran bulan sebagai acuannya, berbeda dengan kalender.

Pacaran Islami.. Ada G ya...

Nah kalo buat kamu yang nggak begitu jelas dengan apa sih itu aktifitas pacaran, (hee.. emang ada ya hare gene yang nggak ngeh apa itu pacaran).

Saturday, January 23, 2016

Cara Bangkit Dari Kebiasaan Buruk

“Kebiasaan buruk itu seperti tempat tidur yang nyaman. Mudah [enak] untuk melakukannya, tetapi sangat sulit meninggalkannya.” (Dr. Bilal Philips)

Cara menghilangkan kebiasaan negatif adalah dengan menciptakan dan membangun kebiasaan positif. Yang namanya membangun, berarti terus memupuk dan giat melakukannya. Ia akan menjadi kesibukan rutin yang dapat menekan kebiasaan negatif bahkan kebiasaan non produktif. “Bersemangatlah engkau untuk meraih apa-apa yang bermanfaat bagimu dan mohonlah pertolongan kepada Allah ﷻ.” (HR. Muslim)

Ingatlah pesan Rasulullah ﷺ yang diriwayatkan oleh Abdullah bin Mas'ud r.a, “Barang siapa tidak mengiringi shalatnya dengan ketaatan, maka itu bukanlah shalat. Ketaatan yang mengiringi shalat adalah rasa malu dan meninggalkan perbuatan buruk.” (Al-hadits)

www.sanderking.com

Sunday, April 12, 2015

Kader Dakwah Dikatakan Eksklusif?

“Saat dakwah dikatakan eksklusif dan susah membaur,” di sisi lain justru dakwah yang mengajarkan tentang persaudaraan dan menyambung silaturahim. Dahulu saat saya melihat problematika dakwah kampus, sering sekali terdengar suara-suara semilir bahwa orang-orang dakwah tidak mau membaur dan susah bergaul dengan orang lain. Bagaimana itu bisa terjadi sementara mereka berdakwah dengan terus mengajak orang lain menuju kebaikan, di mana letak tidak maunya para pendakwah untuk membaur, ataupun tidak mau bergaul? Sunggah pernyataan yang demikin tidak sepenuhnya benar, karena pada hakikatnya mereka (orang-orang yang berdakwah) sedang dalam perjalanan menuju perbaikan diri. Di antara mereka mungkin masih banyak yang merasa dalam keadaan kurang kuat iman, lalu dipilihlah untuk menjaga dan menjauhkan diri dari pergaulan bebas yang lebih condong pada kemaksiatan. Dan yang demikian bukan berarti mereka tidak mau membaur atau susah bergaul, akan tetapi mereka sedang memilih mana yang akan memberikan dampak lebih baik dalam kehidupannya.

“Saat dakwah terus dikatakan eksklusif dan susah membaur,” maka cobalah kita berpikir sejenak di mana letak permasalahannya. Boleh sekali-kali kita balikkan pernyataan itu, “Kenapa mereka (orang-orang penyebar fitnah) tidak mau membaur dengan dakwah, kenapa mereka susah bergaul dengan dakwah, dan kenapa mereka tidak belajar untuk berdakwah? Maka ketahuilah saudaraku, sungguh dari fitnah yang telah mereka sebarkan tadi terdapat bukti dan peasan secara tidak langsung, sesungguhnya mereka sendiri justru telah memberikan informasi bahwa orang-orang dakwahlah yang pantas memberikan solusi atas problematika umat, termasuk mengurus mereka (orang-orang penyebar fitnah), menggauli mereka untuk diberikan pencerahan hidup.

Saudaraku, lalu mana yang hendak kalian pilih? menjadi bagian dari problematika atau menjadi solusi dari problematika?

Sadarilah wahai saudaraku, sebaik apapun engkau, sesantun apapun engkau, sudah pasti akan ada yang memusuhimu. Maka janganlah sekali-kali engkau terlena dengan apa yang mereka katakan, terlebih membenci orang-orang yang memperjuangkan agama-NYA.

Jadilah bagian dari dakwah ilallah, jadilah para penerus dakwah dan pengiat dakwah sampai akhir hayat. Wallahu a’lam…


Sumber: http://www.dakwatuna.com

Wednesday, June 25, 2014

Loyo Setelah 2 Hari? Ini Solusinya

Seringkali, seseorang memiliki semangat menggebu ketika berada di forum muhasabah atau training motivasi, tetapi kemudian ia tidak bertahan lama; kembali loyo, kembali malas, bahkan terkadang bingung hendak mengerjakan apa. Pun saat membuat rencana, hari pertama dan kedua masih semangat sesuai dengan apa yang diagendakan. Namun setelah berlalu beberapa hari, semangat kendor dan aktifitas pun sudah tidak sesuai dengan apa yang direncanakan. Bagaimana agar ruhiyah terjaga semangatnya sehingga kita ‘istiqamah’ di jalan kebajikan dan perbaikan hidup? Berikut 3 langkah yang bersumber dari ayat Al Qur’an sebagaimana dijelaskan Ustadz Ahmad Arqom dalam Tarhib Ramadhan di Gresik, Ahad 22 Juni 2014: عَلِمَ أَنْ سَيَكُونُ مِنْكُمْ مَرْضَى وَآَخَرُونَ يَضْرِبُونَ فِي الْأَرْضِ يَبْتَغُونَ مِنْ فَضْلِ اللَّهِ وَآَخَرُونَ يُقَاتِلُونَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ فَاقْرَءُوا مَا تَيَسَّرَ مِنْهُ وَأَقِيمُوا الصَّلَاةَ وَآَتُوا الزَّكَاةَ وَأَقْرِضُوا اللَّهَ قَرْضًا حَسَنًا “Dia mengetahui bahwa akan ada di antara kamu orang-orang yang sakit dan orang-orang yang berjalan di muka bumi mencari sebagian karunia Allah; dan orang-orang yang lain lagi berperang di jalan Allah, maka bacalah apa yang mudah (bagimu) dari Al Quran dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan berikanlah pinjaman kepada Allah pinjaman yang baik” (QS. Al Muzammil : 20) Allah menyebutkan 3 kondisi ekstrim, tidak menentu dan karenanya membutuhkan kendali dan pegangan yang kuat dalam menghadapinya. Allah Mengetahui bahwa diantara kalian ada orang-orang yang sakit. Orang sakit itu, apalagi ketika sakitnya parah, ia memerlukan pegangan yang kuat agar tetap bersemangat dan memiliki harapan. Ia membutuhkan pegangan yang kuat agar tidak terhinggapi putus asa. Allah juga Mengetahui bahwa diantara kalian ada para pebisnis. Pebisnis itu, ketika ia untung, ia membutuhkan kendali agar tidak melampaui batas dan berfoya-foya. Sebaliknya, ketika ia rugi, ia juga membutuhkan kendali agar tidak jatuh dalam depresi dan frustasi. Allah juga mencontohkan orang-orang yang berperang di jalan Allah. Berperang itu kondisi yang lebih ekstrim dari dua kondisi sebelumnya. Sebab orang yang berperang, ia tidak tahu kapan musuh akan datang. Ia tidak tahu kapan panah melesat. Ia tidak tahu kapan bom akan meledak. Karenanya ia juga menghajatkan pegangan kuat untuk mempertahankan ruhiyahnya. Dan itu ada tiga. Tilawah Al Qur’an disebut dengan istilah ruh dalam Surat Asy Syura ayat 52: “Dan demikianlah Kami wahyukan kepadamu ruh (Al-Qur’an) dengan perintah Kami. “ Karena Al Qur’an memang ruh. Maka, ketika seorang muslim merasa ruhiyahnya kendor, ketika seorang muslim merasakan ruhiyahnya melemah, ia harus mempertemukan ruhnya dengan ruh Al Qur’an. “Maka bacalah apa yang mudah (bagimu) dari Al Quran” Bacalah Al Qur’an dan tadaburilah… Shalat Langkah kedua untuk mengembalikan semangat ruhiyah adalah shalat. Dan di dalam shalat juga ada bacaan Qur’an yang merupakan ruh. Salah satu tujuan menghafal Qur’an adalah agar seorang muslim bisa membaca lebih banyak Al Qur’an di dalam shalatnya dan karenanya shalatnya menjadi panjang. Itulah yang dilakukan Rasulullah dan itu pula yang dilakukan oleh para sahabat yang hafal Qur’an. Dan sejarah mencatat, para hafidz Qur’an menempati prosentase terbesar dalam barisan syuhada pertama. Karena mereka pemberani, mereka berada di garda terdepan pasukan perang. Sedekah Amal ketiga untuk mengembalikan dan menjaga ruhiyah tetap istiqamah adalah sedekah. Secara fisik matematis, sedekah itu mengurangi harta. Tetapi secara ruhiyah, sedekah itu membuat jiwa menjadi semakin luas dan kaya. Saat seseorang menginfakkan hartanya, pada saat yang sama ia mengurangi kecintaannya kepada dunia. Semakin banyak ia ikhlas menginfakkan hartanya, semakin banyak pula kadar kecintaan dunia terhapus dari jiwanya. Dan kecintaan dunia inilah yang membuat ruhiyah melemah. Rasulullah menamakan penyakit cinta dunia dengan wahn; hubbud dunya wa karahiyatul maut. Cinta dunia dan takut mati. Wallahu a’lam bish shawab.

Thursday, June 19, 2014

Robohnya Dakwah Di Tangan Da’i

Robohnya Dakwah di Tangan Da'i Ustadz Fathi Yakan merupakan seseorang yang banyak menghabiskan hidupnya di lapangan dakwah, melihat bahwa gerakan dakwah telah marak digerakkan oleh para aktivisnya. Lembaga dakwah dengan berbagai kecenderungan muncul di mana-mana, baik yang hadir secara formal maupun informal telah memberikan kegembiraan dan nuansa tersendiri. Namun bersamaan dengan itu, muncul pula realitas lain yang dapat menghambat laju gerakan dakwah dan tak lain justru lahir dari internal gerakan dakwah itu sendiri. Adapun penyebabnya adalah: 1. Hilangnya Mana’ah I’tiqadiyah (Imunitas Keimanan) Imunitas keimanan yang hilang akan menyebabkan tidak tegaknya bangunan di atas pondasi pemikiran dan prinsip yang benar. Adakalanya sebuah organisasi hanya berwujud organisasi tokoh yaitu organisasi yang tegak di atas landasan loyalitas kepada pemimpin yang diagung-agungkan. Tak hanya itu, ada pula organisasi figur yaitu berupa organisasi yang dibangun di atas bayangan figur seseorang atau organisasi kepentingan yang hanya berorientasi pada materi semata. Tak heran bila bangunan organisasi itu pun menjadi lemah dan rapuh serta tidak mampu menghadapi kesulitan dan tantangan zaman serta mudah tercerai-berai. 2. Perhatian Tertuju Hanya Pada Segi Kuantitas Salah satu hal yang paling sering terjadi dalam organisasi dakwah adalah kebanggaan dan perhatian terhadap kuantitas. Bilangan anggota seringkali menyibukkan dan menguras perhatian para pemimpin. Seringkali packaging dan proses yang baik hanya dilakukan pada saat rekrutmen tetapi aspek pembinaan yang sangat berpengaruh terhadap peningkatan kualitas kader seringkali terabaikan. Banyak yang beranggapan bahwa jumlah yang banyak selalu menjadi penentu sebuah kemenangan. Tetapi di lain pihak, jumlah yang banyak juga seringkali menjadi pemicu setiap problem dan pembakar api pertikaian. Cukuplah sebagai bukti apa yang terjadi di perang Hunain, tatkala pasukan Islam berbangga dengan jumlah pasukan yang besar. “Dan ingatlah Perang Hunain, yaitu di waktu ka mu menjadi congkak karena banyaknya jumlahmu. Maka jumlah yang banyak itu tidak memberi manfaat kepadamu sedikit pun dan bumi yang luas ini terasa sempit olehmu, kemudian kamu lari ke belakang dengan bercerai-berai” (At- Taubah: 25) Perang Hunain pun menjadi saksi hancurnya kuantitas yang dibarengi dengan penyakit sejenis riya dan takabur. Berbeda halnya dengan Perang Badar yang dimenangkan oleh pasukan Islam dengan jumlah personil yang sedikit karena mengedepankan aspek kualitas dan ruhiyah yang baik. 3. Tidak Ada Keamniahan Dalam Dakwah Berbicara tentang dakwah berarti berbicara tentang strategi. Seringkali para da’i tidak menyadari bahwa tidak semua hal dapat diketahui oleh khalayak umum baik proses ataupun orang yang terlibat. Contohnya adalah saat mendapat SMS berupa ta’limat dari Murabbi dengan kalimat “HANYA UNTUK ANTUM”. Ternyata banyak da’i yang masih tidak bisa menjaga kerahasiaan yang telah dibentuk sehingga musuh dapat dengan mudah “membaca” gerak yang telah dipersiapkan serta membongkar aktivitas gerakan dakwah. “Hai orang-orang yang beriman, ambillah kewaspadaan lantas majulah berkelompok-kelompok atau bersama-sama (An-Nisa: 71) 4. Tidak Sabar Dengan Budaya Proses Hasan Al-Banna pernah berkata, “Sesungguhnya kepahlawanan itu hanya dapat terlihat melalui kesabaran, ketahanan, kesungguhan dan kerja yang tak mengenal lelah. Barang siapa di antara kalian yang tergesa-gesa ingin menikmati buah sebelum masak atau memetik bunga sebelum mekar, maka saya tidak bersamanya sejenakpun. Ia lebih baik minggir dari dakwah ini untuk mencari medan yang lain”. Perubahan Islami yang terjadi di masyarakat bukanlah hal yang mudah dan dapat ditempuh dalam waktu singkat. Faktor waktu memiliki kedudukan tersendiri dalam setiap aktivitas perubahan, bahkan meskipun sekadar langkah perbaikan. Perubahan Islam dalam bentuknya yang khusus bukan sekadar masalah memperindah dan mengubah bentuk, tetapi ia mengganti dengan realitas baru, termasuk prinsip-prinsip aqidah, pemikiran, dan juga budaya. 5. Budaya Akhlak Yang Buruk Salah satu faktor yang merusak barisan adalah akhlak buruk yang masih ada dalam diri para da’i seperti suka menggunjing, mengadu domba, su’uzhan, fitnah, dengki, banyak bicara, dan tersebarnya itu semua tanpa kendali dengan alasan memperbaiki keadaan melalui amar ma’ruf nahi mungkar. 6. Tidak Tsiqah (Taat) pada Qiyadah Sebuah gerakan apapun namanya apabila memiliki ketsiqahan yang bercabang dengan pihak lain, maka akan menjadi gerakan potensial yang melahirkan pertikaian dan memunculkan ambisi-ambisi pribadi. 7. Tidak Professional Dalam Manajemen Melihat lemahnya manajemen pada bangunan organisasi menyebabkan keringnya keyakinan baik di tingkat anggota maupun pemimpin. Di samping itu, beban dakwah baik material maupun spiritual begitu berat sehingga akhirnya menjadi bangunan yang rapuh dan pintu-pintunya terbuka lebar. 8. Rendahnya Pemahaman Politik Hal ini terkadang menjadi faktor penyebab lepasnya elemen-elemen bangunan dan kehancurannya. Sebuah gerakan di mana saja apabila tidak memiliki kesadaran politik yang tinggi dan baik, maka tidak bisa hidup dan mengimbangi zaman. Lantas, bagaimana menjaga bangunan dakwah? 1. Berjamaah Atas Dasar Takwa Menegakkan bangunan atas dasar takwa kepada Allah SWT pada seluruh elemennya adalah suatu keharusan. Selain aktivitas tarbawi (pendidikan), maka aktivitas siyasi (politik) pun mesti dibangun atas dasar takwa. “Maka apakah orang-orang yang mendirikan bangunannya di atas dasar takwa kepada Allah dan keridhaan-Nya itu yang baik, ataukah orang-orang yang mendirikan bangunannya di tepi jurang yang runtuh, lalu bangunannya itu jatuh bersama-sama dengan dia ke dalam Neraka Jahanam? Dan Allah tidak memberikan petunjuk kepada orang-orang yang zhalim” (At-Taubah: 109) Gerakan dakwah yang mampu menjaga nilai-nilai ajaran Allah dan takwa kepada-Nya, maka gerakan dakwah tersebut akan menjadi gerakan yang mapan dan kukuh pijakannya. 2. Tingkatkan Amalan Yaumiah Amalan yaumiah merupakan sumber energi utama bagi gerakan dakwah. Ibaratkan sebuah motor, apabila akan menempuh perjalanan yang jauh maka motorpun akan diisi dengan bensin yang banyak. Begitu pula dengan kegiatan dakwah, semakin banyak aktivitas yang digarap, maka seharusnya semakin dekat pulalah kita kepada Allah dengan memperbanyak amalan yaumiah. 3. Perbaiki Akhlak Di dalam perjalanan dakwah seringkali terdapat perselisihan dan pertentangan. Hendaknya dalam penyelesaian masalah tersebut tetap menggunakan adab, etika dan sesuai pada forumnya sehingga tetap menjaga kehormatan saudara kita. 4. Berlaku zuhud sebagai Qiyadah “Zuhudlah kamu akan harta dunia, niscaya Allah akan menyukaimu. Zuhudlah kalian akan apa-apa yang ada di tangan orang. Niscaya orang akan mencintaimu” (HR. Ibnu Majah) 5. Mempererat Ukhuwah Persaudaraan Ukhuwah (persaudaraan) merupakan elemen bangunan yang paling kuat dan faktor cukup berpengaruh dalam pertahanan internal. “Seorang mukmin bagi mukmin yang lain laksana bangunan yang saling mengukuhkan antar sesamanya” (HR. Bukhari) 6. Amar Ma’ruf Nahi Mungkar Amar ma’ruf berarti memerintahkan keutamaan dan kemuliaan akhlak secara lisan maupun tindakan. Sedangkan nahi mungkar berarti mencegah perbuatan keji dan merusak baik secara lisan maupun tindakan. Beberapa cara yang merupakan amar ma’ruf nahi mungkar dalam gerakan dakwah adalah: a) Menjaga mekanisme syura Syura (musyawarah) dalam mengambil keputusan dapat menjauhkan rasa egoisme, kediktatoran dan menyaring emosi dari masing-masing anggota syura. b) Tingkatkan manajerial organisasi Seluruh aktivitas hendaknya ditegakkan di atas perencanaan dan manajemen dengan melibatkan seluruh anggota dalam memikul tanggung jawab. 7. Menjaga Keseimbangan Dakwah Amal islami ditegakkan di atas prinsip saling melengkapi dan seimbang. Aktivitas pendidikan (tarbiyah) wajib memperoleh perhatian istimewa betapapun dinamisnya aktivitas kehidupan secara umum. Bila aktivitas tarbiyah ini mengalami kemacetan, maka akan terlihat dampak negatif dalam bangunan gerakan dakwah. 8. Menjaga Aspek Pembinaan Salah satu penyebab hancurnya berbagai kelompok Islam adala h lemahnya pembinaan. Dalam hal ini terlihat saat lemahnya sang murabbi (pendidik) dalam membina dan acuh tak acuhnya mutarabbi dalam proses tarbiyah. Lemahnya aspek pembinaan ini akan mengancam kualitas takwa anggota dan menjadi lahan subur bagi tumbuhnya penyakit hati yang dapat memecah belah kehidupan berjamaah. Semoga Allah tetap menjaga keistiqamahan kita dalam mengemban amanah-amanah dakwah ini. Sumber: Robohnya Dakwah Di Tangan Da’i (Fathi Yakan)

Tuesday, June 17, 2014

Tips mencari jodoh

" Jodoh: Dipilih atau Memilih?" Bersama Salim A Fillah ~Sebuah Ringkasan~ Pertama Satu hal yang seringkali dilupakan oleh banyak wanita adalah bahwa kemuliaan wanita tidak bergantung pada laki-laki yang mendampinginya. Tahu darimana? Allah meletakkan nama dua wanita mulia dalam Al Quran, Maryam dan Asiyah. Kita tahu, Maryam adalah wanita suci yang tidak memiliki suami, dan Asiyah adalah istri dari manusia yang sangat durhaka, Firaun. Apakah status itu mengurangi kemuliaan mereka? No! Itulah mengapa, bagi wanita di zaman Rasulullah dulu, yang terpenting bukan mendapat jodoh di dunia atau tidak, melainkan bagaimana memperoleh kemuliaan di sisi Allah. Kedua Bicara jodoh adalah bicara tentang hal yang jauh: akhirat, surga, ridha Allah, bukan semata-mata dunia. Ketiga Jodoh itu sudah tertulis. Tidak akan tertukar. Yang kemudian menjadi ujian bagi kita adalah bagaimana cara menjemputnya. Beda cara, beda rasa. Dan tentu saja, beda keberkahannya. Keempat Dalam hal rezeki, urusan kita adalah bekerja. Soal Allah mau meletakkan rezeki itu dimana, itu terserah Allah. Begitupun jodoh, urusan kita adalah ikhtiar. Soal Allah mau mempertemukan dimana, itu terserah Allah. Kelima Cara Allah memberi jodoh tergantung cara kita menjemputnya. Satu hal yang Allah janjikan, bahwa yang baik untuk yang baik. Maka, mengupayakan kebaikan diri adalah hal utama dalam ikhtiar menjemput jodoh. Keenam Dalam urusan jodoh, ta’aruf adalah proses seumur hidup. Rumus terpenting: jangan berekspektasi berlebihan dan jangan merasa sudah sangat mengenal sehingga berhak menafsirkan perilaku pasangan. Ketujuh Salah satu cara efektif mengenali calon pasangan yang baik adalah melihat interaksinya dengan empat pihak, yakni Allah, ibunya, teman sebayanya, dan anak-anak. Kedelapan Seperti apa bentuk ikhtiar wanita? 1. Meminta kepada walinya, sebab merekalah yang punya kewajiban menikahkan. 2. Meminta bantuan perantara, misal guru, teman, dll. Tapi pastikan perantara ini tidak memiliki kepentingan tertentu yang menyebabkannya tidak objektif. 3. Menawarkan diri secara langsung. Hal ini tidak dilarang oleh syariat. Bisa dilakukan dengan menemuinya langsung atau melalui surat dengan tulisan tangan. Konsekuensi satu: Ditolak. Tapi itu lebih baik daripada digantung. Kesembilan Bagaimana jika ada pria yang datang pada wanita, menyatakan rasa suka, tapi meminta ditunggu dua atau tiga tahun lagi? Perlukah menunggu? Sabar itu memang tidak ada batasnya. Tapi ada banyak pilihan sabar. Silakan pilih. Mau sabar menunggu, atau sabar dalam merelakannya. Satu hal yang pasti, tidak ada jaminan dua tiga tahun lagi dia masih hidup. Pun tidak ada jaminan kita bisa menuntut jika dia melanggar janjinya, kecuali dia mau menuliskan janjinya dengan tinta hitam diatas kertas putih bermaterai. Kesepuluh Bagaimana jika ada pria yang jauh dari gambaran ideal seorang pangeran tapi shalih datang melamar? Bolehkah ditolak? Tanyakan pada hatimu: Mana diantara semua faktor itu yang paling mungkin membawamu dan keluargamu ke syurga? 🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹

Tuesday, June 11, 2013

Tinjauan Ilmiah : Mengapa Emas dan Perak Sebagai Nishab Zakat?

100 Trilyun Dolar Zimbabwe = US$ 5 (Rp 45.000)!
Inilah mengapa Allah memakai Emas dan Perak sebagai patokan Nishab Zakat. Bukan uang kertas. Uang Kertas 100 trilyun dolar Zimbabwe nilainya cuma US$ 5 (Rp 45.000)! Orang harus bawa setumpuk uang untuk belanja sehari2. Ini pemiskinan massal. Kezaliman thd rakyat!

“…Allah Tahu, sedang kamu tidak tahu!” [Al Baqarah 216]
Tahun 90-an ongkos naik bis cuma Rp 100. Tahun 2000-an jadi Rp 2000. 10 tahun saja naik 20x lipat. Padahal gaji pada kurun itu belum tentu naiknya segitu. Jadi uang kertas itu pemiskinan massal. Padahal kalau digaji misalnya dgn 10 gram emas, niscaya dari 1400 tahun lalu hingga sekarang, meski jumlahnya tak berubah, nilainya juga tidak turun.


Allah dan RasulNya sudah memberi contoh pemakaian emas dan perak sebagai uang. Bukan uang kertas yang tiap tahun nilainya selalu turun dan sering terkena Krisis Keuangan.
Emas dan Perak karena punya nilai riel dibanding kertas, lebih stabil dan lebih tahan terhadap inflasi. Contohnya, 1 dinar (4,25 gram emas 22 karat) pada zaman Nabi bisa dipakai untuk membeli 1-2 ekor kambing. Ada satu hadits yang merupakan bukti sejarah stabilitas uang dinar di Hadits Riwayat Bukhari sebagai berikut:


”Ali bin Abdullah menceritakan kepada kami, Sufyan menceritakan kepada kami, Syahib bin Gharqadah menceritakan kepada kami, ia berkata, “Saya mendengar penduduk bercerita tentang ’Urwah, bahwa Nabi saw. memberikan uang satu Dinar kepadanya agar dibelikan seekor kambing untuk beliau, lalu dengan uang tersebut ia membeli dua ekor kambing, kemudian ia jual satu ekor dengan harga satu Dinar. Ia pulang membawa satu Dinar dan satu ekor kambing. Nabi saw. mendoakannya dengan keberkatan dalam jual belinya. Seandainya ‘Urwah membeli tanahpun, ia pasti beruntung.” (H.R.Bukhari)


Saat ini pun dengan kurs 1 dinar=Rp 2,2 juta, kita bisa mendapat 1 kambing besar atau 2 ekor kambing kecil. Stabil bukan?


Hiperinflasi adalah penyakit umum dari Uang Kertas Fiat (uang yang tidak dijamin emas, perak, dan barang2 berharga lainnya). Banyak krisis keuangan terjadi di dunia termasuk di AS, Yunani, Turki, Indonesia, Zimbabwe, dsb karena uang kertas yang mereka pakai sebetulnya tidak berharga.



Gambar di atas menunjukkan bagaimana uang kertas Hongaria akhirnya jadi sampah tak berharga yang harus dibuang di jalan pada tahun 1946. Nilai terbesar pada uang kertas adalah 100 quintillion pengo pada tahun 1946 oleh Bank Nasional Hongaria. Nilainya 100.000.000.000.000.000.000). Tapi disingkat jadi 1.000.000.000 b-pengo.


Pasca Perang Dunia II, Hongaria mencatat inflasi bulanan tertinggi: 41.900.000.000.000.000% (4.19 × 1016% or 41.9 quadrillion percent) pada bulan Juli 1946. Harga naik 2 x lipat setiap 15,3 jam.

Sementara Zimbabwe per 14 November 2008 inflasi tahunannya mencapai 89,7 sextillion (1021) percent. Inflasinya per bulan 5473%. Harga naik 2x lipat setiap 5 hari.
Bayangkan. Harga barang bisa naik 2 x lipat setiap 15,3 jam. Padahal gaji kita belum tentu naik sebesar itu. Jadi uang kertas sesungguhnya memiskinkan rakyat.
Hanya segelintir orang yang punya akses untuk mencetak uang atau membungakan uang saja yang bisa menikmati keuntungan.


Cara pemerintah menutupi inflasi adalah dengan melakukan redenominasi/revaluasi. Misalnya Turki merevaluasi Lira pada 1 Januari 2005 sehingga 1.000.000 Lira Lama (Turkish Lira-TRL) diganti dengan 1 Lira Turki Baru (TRY).


Di Indonesia tahun 1959 pada Zaman Soekarno pernah terjadi Sanering yang bukan hanya memangkas bilangan angka pada uang, tapi juga nilainya sehingga daya beli rakyat hancur. Yang jelas uang kertas yang tidak ada harganya tersebut banyak menimbulkan penderitaan pada rakyat.
Itulah sebabnya mengapa Allah memakai emas dan perak sebagai Nishab Zakat.
“…Allah Tahu, sedang kamu tidak tahu!” [Al Baqarah 216]

Secuil Inspirasi Dari Cicak

Cicak-cicak didinding, yang diam-diam melahap mangsanya. ia bertubuh kecil, dan tak ayal jika ia juga terkadang menyebarkan kotorannya di rumah kita, namun tidakkah pernah kita berfikir sejenak apa yang menyebabkan cicak begitu senang dengan rumah kita? diam-diam cicak juga menyimpan rahasia tertentu untuk kita pelajari.

terinspirasi dari seorang yang membahas masalah cicak pada saat rapat. maka tausyiahnya juga bertafakur tentang ciptaan Allah SWT yaitu cicak.

Cicak selalu ada disetiap bangunan yang berpenghuni maupun tidak…Binatang satu ini tidak berbahaya, tapi berbahaya jika masuk kedalam makanan kita. namun ada sebagian dari kita yang terkadang merasa takut atau merasa geli dengan cicak.

Pernahkah kita berfikir apa makanan cicak?

Cicak biasanya makan makanan yang melintas terbang dihadapannya, contohnya nyamuk, serangga dan sejenisnya.

Hebatnya cicak tidak pernah protes dan selalu bersabar meskipun makanannya selalu bergerak dan terbang kesana kemari. Cicak juga tidak bisa terbang namun ia bisa memangsa hewan yang terbang disekitarnya, bagaimana caranya? nah itulah ciptaan Allah, walaupun ia kecil tetapi masih di beri allah kehidupan.

Sekarang kita bayangkan jika makanan atau rezeki yang ingin kita dapatkan terbang terbang tak tentu arahnya, apakah kita bisa sabar seperti cicak?apakah kita bisa mendapatkan makanan?

Kita manusia diberikan kelebihan oleh Sang Khaliq, kita bisa mencari makan atau rezeki di laut, udara dan daratan. Tapi mengapa masih banyak saja manusia yang selalu berputus asa masalah makan dan mencari rezeki?

Kita manusia lebih mulia dari cicak, tapi terkadang kita lebih nista dari cicak jika urusan bersyukur.bagaimana disebutkan didalam Alquran. apabila kita mensyukuri ni'mat yang diberikan Allah, Maka nikmat itu akan Allah tambah, dan siapa saja yang tidak bersyukur maka Allah mengingatkan dengan tegas orang itu dengan kata "...sesungguhnya Azabku sangat pedih"

Nah pastikan diri kita untuk senantiasa bersyukur atas kemurahan Allah SWT. nikmat nafas saja sudah tidak terperikan, apalagi ni'mat berfikir... dan mudah dalam mendapatkan rezeki? sialahkan merenung wahai ikhwah... & bersyukur... karena barang siapa yang mensyukuri Nikmat Allah maka Allah akan menambah nikmat itu.

Al-'aqli

Wednesday, February 27, 2013

Haramkah Merokok? : Hukum Merokok

No Smoking
Dr. Ir. M. Romli, Msc

Rokok, dulu makruh, kini haram. Sepintas, ini mungkin terasa aneh. Wong hukum kok berubah-ubah, yang dari dulu diketahui makruh sekarang dikatakan haram. Hal ini disebabkan kita masih sering mencampuradukkan antara pengertian syariah dan fiqih. Syariah adalah hokum yang diwahyukan oleh Allah SWT, sebagaimana tercantum dalam Al-Quran dan Sunnah.
Apa yang telah ditetapkan 14 abad yang lalu berupa hukum Syariah itu, tetap berlaku hingga kini bahkan sampai akhir jaman nanti, tidak berubah.

Lain halnya dengan Fiqih. Fiqih adalah hukum Islam yang dideduksi dari syariah untuk menjawab situasi-situasi spesifik yang tidak secara langsung ditetapkan oleh hukum syariah. Penetapan hukum berdasarkan deduksi ini dapat saja berubah tergantung pada situasi dan kondisi dimana hukum itu diterapkan. Kedua istilah yang sebenarnya tidak sama ini, hingga kini masih sering dipukul rata saja dengan sebutan, Hukum Islam.

Lima Ratus Silam
Budaya (me) rokok termasuk gelaja yang relatif baru di dunia Islam. Tak lama setelah Chirstopher Columbus dan penjelajah-penjelajah Spanyol lainnya mendapati kebiasaan bangsa Aztec ini pada 1500, rokok kemudian tersebar dengan cepatnya ke semenanjung Siberia dan daerah Mediterania. Dunia Islam, pada saat itu berada dui bawah kekhilafahan Ustmaniyah yang berpusat di Turki. Setelah diketahui adanya sebagian orang Islam yang mulai terpengaruh dan mengikuti kebiasaan merokok, maka dipandang perlu oleh penguasa Islam saat itu untuk menetapkan hukum tentang merokok.

Pendekatan yang digunakan untuk menetapkan hukum merokok, adalah dengan melihat akibat yang Nampak ditimbulkan oleh kebiasaan ini. Diketahui bahwa merokok menyebabkan bau nafas yang kurang sedap. Fakta ini kemudian dianalogkan dengan gejala serupa yang dijumpai pada masa Rasulullah Saw, yaitu larangan mendatangi masjid bagi orang-orang yang habis makan bawang putih/bawang merah mentah, karena bau tak sedap yang ditimbulkannya. Hadist mengenai hal ini diriwayatkan antara lain oleh Ibnu Umar, ra, dimana Nabi bersabda, "Siapa yang makan dari tanaman ini (bawang putih) maka jangan mendekat masjid kami" (HR Bukhari-Muslim).

Sebagaimana kita ketahu, di penghujung sholat setiap orang memberikan salam, yang bisa bertemu muka satu dengan yang lainnya. Dapat dibayangkan, betapa tidak nyamannya bila ucapan salam ke kanan-kiri itu menebarkan "wangi" bawang mentah! Berdasarkan analogi tersebut, para ulama Islam saat itu berpendapat bahwa merokok hukumnya makruh (tercela).

Kini, Haram
Demikianlah hukum merokok yang sampai saat ini kita pahami, makruh. Lima ratus tahun berselang, fakta-fakta medis menunjukkan bahwa rokok tidak sekedar menyebabkan bau nafas tak sedap, tetapi juga berakibat negatif secara lebih luas pada kesehatan manusia. Sebenarnya pengaruh buruk dari merokok terhadap kesehatan telah diperkirakan sejak awal abad XVII (Encyclopedia Americana, Smoking and Health, p.70 1989). Namun demikian, rupanya perlu waktu hingga 350 tahun untuk mengumpulkan bukti-bukti ilmiah yang cukup untuk meyakinkan dugaan-dugaan itu.

Kenaikan jumlah kematian akibat kanker paru-paru yang diamati pada awal abad XX telah menggelitik dimulainya penelitian-penelitian ilmiah tentang hubungan antara merkokok dan kesehatan. Sejalan dengan peningkatan pesat penggunaan tembakau, penelitian pun lebih dikembangkan, khususnya pada tahun-tahun 1950-an dan 1960-an.

Laporan penting tentang akibat merokok terhadap kesehatan dikeluarkan oleh The Surgeon General's Advisory Committee on Smoking and Health di Amerika Serikat pada tahun 1964. Dua tahun sebelumnya The Royal College of Physician of London di Inggris telah pula mengeluarkan suatu laporan penelitian penting yang mengungkapkan bahwa merokok menyebabkan penyakit kanker paru-paru, bronkitis, serta berbagai penyakit lainnya.

Hingga tahun 1985 sudah lebih dari 30.000 paper tentang rokok dan kesehatan dipublikasikan. Sekarang ini tanpa adakeraguan sedikitpun disimpulkan bahwa merokok menyebabkan kanker paru-paru baik pada laki-laki maupun wanita. Diketahui juga bahwa kanker paru-paru adalah penyebab utama kematian akibat kanker pada manusia. Merokok juga dihubungkan dengan kanker mulut, tenggoroka, pankreas, ginjal, dan lain-lain.

Bukti-bukti ilmiah tentang pengaruh negatif rokok terhadap kesehatan yang telah diringkaskan di atas mengharuskan kita untuk meninjau kembali status hukum makruh merokok yang selama ini kita ketahui. Beberapa fakta berikut ini sangatlah relevan untuk dijadikan bahan perenungan dan pertimbangan, sebelum sebatang rokok lagi mulai anda "nikmati" :

- Rokok menyebabkan kanker dan kanker menyebabkan kematian, maka merokok menyebabkan kematian. Hukum tentang perbuatan semacam ini secara terang dijelaskan dalam syariat Islam, antara lain ayat Al-Quran yang terjemahannya adalah: "...dan janganlah kamu membunuh jiwa..." (QS 6:151)

- Tubuh kita pada dasarnya adalah amanah dari Allah yang harus dijaga. Mengkonsumsi barang-barang yang bersifat mengganggu fungsi raga dan akal (intoxicant) hukumnya haram, misalnya alkohol, ganja dan sebangsanya. Perhatikan firman Allah SWT: "Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya khamr, judi, berkorban untuk berhala dan mengundi nasib adalah kekejian, termasuk perbuatan setan.Jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu sukses" (QS 5:90).

Kemudian dijelaskan lebih lanjut dalam sebuah hadist yang dikumpulkan oleh Muslim dan Abu Dawud, dimana Nabi Saw berkata, "Setiap yang mengganggu fungsi akal (intoxicant) adalah khamr dan setiap khamr adalah haram".

- Merokok hampir selalu menyebabkan gangguan pada orang lain. Asap rokok yang langsung diisapnya berakibat negatif tidak saja pada dirinya sendiri, tapi juga orang lain di sekitarnya. Asap rokok yang berasal dari ujung punting maupun yang dikeluarkan kembali dari mulut dan hidung si perokok, menjadi "jatah" orang-orang disekelilingnya. Ini yang disebut passive smoking atau sidestream smoking yang berakibat sama saja denan mainstream smoking. Berbuat sesuatu yang dapat menimbulkan bahaya (mudharat) bagi diri sendiri apalagi orang lain, adalah hal yang terlarang menurut syariat. Sebagaimana sabda Nabi SAW, "Laa dharar wa laa dhiraar".

- Harta yang kita miliki tidaklah pantas untuk dibelanjakan untuk hal-hal yang tidak bermanfaa, misalnya dengan membakarnya menjadi abu dan asap rokok. Tegakah kita melihat selembar uang berwajah kartini dibakar setiap minggunya? Perhatikan ayat-ayat Alquran sebagai berikut: "...dan janganlah menghambur-hamburkan hartamu secara boros. Sungguh para pemboros adalah saudara-saudara setan, dan setan itu sangat ingkar pada Tuhannya" (QS 17: 26- 27). Sungguh ayat ini adalah suatu deskripsi yan sangat serius

Kesimpulan

Uraian singkat di atas cukuplah kiranya membuktikan bahwa kebiasaan merokok merupakan suatu perbuatan yang terlarang menurut ajaran Islam. Merokok tidak saja memberikan mudharat bagi pelakunya, tetapi juga bagi orang-orang lain di sekitarnya. Merokok tidak dapat memberikan manfaat apapun bagi pelakunya, sehingga membelanjakan harta untuk rokok termasuk dalam kategori pemborosan (tabdzir) yang sangat dicela oleh Islam.

Perlu ditegaskan di sini bahwa Islam pada dasarnya adalah suatu sistem yang membangun, bukan yang
menghancurkan. Islam tidak datang untuk menghancurkan kebudayaan, moral maupun kebiasan-kebiasaan umat manusia, tetapi ia datang untuk memperbaiki kondisi umat manusia. Dengan demikian segala sesuatunya dilihat dari persepektif kesejahteraan umat manusia, apa yang merugikan dihilangkan dan apa yang bermanfaat dikonfirmasikan.

Dalam Al-Quran ditegaskan bahwa Islam adalah suatu sistem yang:
"..menyuruh mengerjakan ma'ruf dan melarang perbuatan mungkar, dan menghalalkan segala cara yang baik dan
mengharamkan segala yang buruk..." (QS. 7:157).

Mudah-mudahan kita sekalian diberi kekuatan untuk selalu melakukan apa yang diperintahkan Allah SWT dan RasulNya, dan meninggalkan apa yang dilarang oleh Allah dan RasulNya.
Wallahu a'lam

Penulis adalah auditor LPPOM MUI, Direktur APN dan Staf Dosen Jurusan Teknologi Industri-FATETA, IPB.

Sumber: Jurnal Halal No. 5 / I / Mei - Juni 1995

Fans Fage

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More